Para Pengais Rezeki di Usia Senja

Riuh pasar masih begitu terasa, saat itu waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Lalu-lalang pembeli membuat setapak Pasar Besar Kota Batu menjadi sesak. Suara tawar-menawar antar pembeli dan penjual nyaring dan jelas ditelinga. Beberapa pedagang mulai melipat terpal lapaknya, menandakan mereka telah usai mengais rezeki Tuhannya.

Suasana sesak pasar saat ramai pembeli.
(sumber gambar: The Story of Jakarta Citizen)
Pasar ini sesuai dengan namanya, ia adalah pasar paling besar di wilayahnya. Para pedagang sayur mulai membuka lapak pada pukul 00.00 dini hari. Penyedia jasa angkutan seperti ojek mulai "narik" selepas subuh. Dilanjutkan pedangang buah dan perlengkapan rumah tangga yang buka pada pukul 06.00.

Muhammad Rifa'i (60), salah satu tukang ojek, dulunya ia adalah salah satu penjual Sembilan Bahan Pokok (SEMBAKO). Namun, nasib berkata lain, ia bangkrut karena terlalu banyak dihutangi pelanggannya. Ia banting setir menjadi tukang ojek. "Dulunya setiap habis subuh saya buka toko, setelah bangkrut ya nggak lagi. Sekarang ngojek aja. Berangkat sekitar jam delapanan kalau sekarang. Sudah tua juga, nggak kuat kalau terlalu pagi," tuturnya.

Usia senja bukan alasan untuk menyerah pada keadaan.
(sumber: Lunturan Pena)
Disaat banyak mata manusia yang dibuai lembut mimpi, para pengais-pengais rezeki Tuhan sedang giat bekerja. Setiap dagangan ditata rapi bersama doa-doa disetiap letaknya. Harapan yang mulia terukir kuat, laku meskipun sedikit. Di antara sibuknya transaksi penjual dan pembeli, ada seorang perempuan tua duduk manis sembari menyapa setiap orang yang melewati lapaknya. Bibir yang mengembang manis diantara kulit keriput mencerminkan pribadi yang lembut dan teduh.

Marlikah (87), sudah memulai usahanya sejak 1984, dua tahun setelah Pasar Besar Kota Batu resmi dibuka. Dahulu ia selalu membuka lapaknya pukul 02.00 dini hari, namun sekarang tidak lagi seiring bertambahnya usia. Semakin bertambahnya hari dan tahun, ia merasa semakin terpinggirkan. Ia merasa kurang diperlakukan dengan adil. "Dagangan saya kalah dengan dagangan orang-orang yang ada di depan. Saya dipindah ke belakang sekarang, sepi. Harusnya adil. Ya sudah, setiap hari saya jualan sedikit-sedikit aja, ala kadarnya. Harusnya adil, kalau begini, gimana nasib saya," keluhnya.
Salah satu sudut pasar.
(sumber: The Story of Jakarta Citizen)
Begitu banyak lika-liku dalam hidup. Para pejuang rezeki ini bukan hanya kurang tidur, tetapi juga kurang merasakan keadilan. Menjadi pelaku lama dalam usaha tak selalu menjadi jaminan untuk selalu diatas posisinya.

Budimen (60), seorang penjual buah-buahan, sudah 20 tahun menjajakan dagangannya. Sejak dulu ia selalu membuka lapaknya seusai subuh. Aneka buah-buahan seperti Bengkuang, Pepaya dan Nanas setia menghiasi lapaknya. Bilamana hujan datang, ia harus segera membereskan dagangannya dan bergegas pulang. "Tenda saya nggak kuat kena hujan. Kalau hujan ya pulang," ungkapnya.

Berjuang mendapatkan rezeki Allah pada hakikatnya tidak mengenal usia. Selama nama-Nya selalu ada dalam hati dan jiwa ini, semua terasa mudah dan nikmat. Usia bukan hambatan yang berarti pula bilamana semangat dan iman mengakar kuat dalam diri.


-Tugas Upgrading Bestari Koran Kampus UMM | Batu, 16 Desember 2017

Share:

0 comments