Zona Nyaman, Enyahlah!

Urusan edit-mengedit grafik, audio atau video, barangkali menjadi hal yg ribet bagi sebagian orang. Hal ini tak salah, karena mengedit memang butuh ketekunan. Ia harus diperhatikan satu persatu, jeli. 

sumber gambar: film-grab.com
Pun demikian, sebagian orang juga menganggap bahwa mengedit itu "gampang". Mungkin sebagian dari kita juga pernah mengalami hal demikian, baik sebagai subjek maupun objek. Tak jarang bila kita hendak mencetak stiker, pin ataupun banner di percetakan, tulisan dalam ukuran besar maupun kecil menyindir para pelanggan terpampang jelas di dinding toko. Seperti, "Design grafis, bukan gratis", "Tinggal ngedit dikit, kok", "Tolong elemen ini dipindah kesini ya mas, kan gampang tinggal mindah doang.". Aku menemui hal semacam ini di Gajayana Printing Malang.

Bagiku, sebagai pribadi yang suka ngedit, ngedit bukan hal yang membosankan ataupun ribet. Ngedit adalah wuuuuuw. Hahaha. Mungkin kita pernah dengar kata mutiara untuk menyemangati penulis baru yang begini bunyinya, "Dengan menulis aku bisa menjadi siapapun.". Kalau boleh aku modifikasi sedikit, "Dengan mengedit aku bisa melakukan apapun, aku bebas.".
sumber gambar: film-grab.com
Seringkali kita menjalani hidup ini tidak dengan bebas, merdeka. Lihat saja pakaianmu yang rapih, bagi perempuan lihatlah berapa macam jenis make up-mu, dari yang diproduksi di Indonesia, hingga yang diproduksi di Amerika. Kita terpaksa menjadi orang lain. Mengenakan celana yang sempit demi terlihat modis, mengenakan high heels demi terlihat layaknya artis cantik korea. Wuuuw.

Kembali ke ngedit deh. Mengedit bagiku adalah sebuah keasyikan tersendiri. Mengedit bukan tentang alat. Bukan tentang skill, apalagi tentang keunggulan diri. Mengedit itu tentang, rasa. Melibatkan rasa dalam setiap gerakan mouse, klik dan seruputan teh hangat.

Di jurusan Ilmu Komunikasi, aku diperkenalkan dengan Coraldraw (software editing vektor) melalui mata kuliah yang frequensi pertemuannya enam bulan. Mulanya, aku hanya menyukai mengedit video dan audio. Namun, gara-gara kelas ini aku jadi harus mengedit vektor. Aku termasuk orang yang berprinsip tidak nyaman dalam melakukan sesuatu yang bukan passionku. Aku sadar betul, kalau aku sedang nyaman dengan "keahlianku" dalam mengedit video dan audio. Tetapi, dalam hati kecilku, aku juga ada keinginan untuk bisa mengedit grafik walaupun belum begitu besar kala itu. Disisi lain, mengedit grafik sangatlah penting demi menunjang hardskill-ku di Ilmu Komunikasi.
sumber gambar: film-grab.com
Bulan-bulan pertama aku menempuh mata kuliah komputer grafis, sangat berat. Aku merasa terpaksa melakukan semua. Tapi, ku pikir aku terlalu nyaman dengan pencapaianku sebelumnya.

Pada akhirnya aku mencari hal-hal yang menarik dari mengedit grafik. Tetang penting dan keuntungannya. Kusampaikan diawal, mulanya keinginan untuk bisa mengedit hanya kecil. Tapi, karena setiap hari nyari tentang grafik yang muaranya selalu praktek, eh betah ngedit grafik sampai sekarang. Sudah terhitung setahun-an. Rasa keinginanku berubah seketika menjadi suka, kemudian berubah lagi menjadi cinta. Hal tersebut tak lain karena tanggapan teman-teman yang positif. 

Walau awal-awal aku mempublish hasil editan grafikku mendapat respon yang menyakitkan. Aku terus saja mengedit. Hal tersebut yang membuatku makin besar keinginan untuk menaklukan design grafis.

Berlanjut, aku mencari hal-hal yang sekiranya dapat membuatku lebih intens belajar grafik. Setahun lalu (2016), aku memasuki tahun pertama menjadi staff bidang di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Aku melihat peluang emas. Organisasi ini kurang maksimal menggarap media sosialnya. Saat itu aku berpikir bahwa instagram punya masa depan yang bagus. Ku minta akun hak akses instagram. Aku diberi kesempatan seluas-luasnya oleh pimpinan saat itu untuk mengembangkan media sosial organisasi.

Begini designku pada bulan-bulan pertama saat aku memegang akun instagram organisasi:

Bulan Pertama

Bulan Kedua

Bulan Tujuh

Bulan ke Dua-belas

Transformasi dari waktu ke waktu mengajarkanku, bahwa sebuah keinginan bila dikejar secara maksimal, kita akan mendapatkannya. Ketekunan menjadi kunci utama dalam hal ini. Salah, benar sudah menjadi konsekuensinya. Bagiku, kritik adalah pendapat orang atas karya kita demi baiknya karya kita selanjutnya.

Refleksi
sumber gambar: film-grab.com
Izinkan aku untuk merefleksikan kecintaanku pada mengedit secara singkat. Allah menciptakan kita dengan segala kelebihan. Tak patutlah kita memandang orang lemah dengan barometer kehebatan secara umum. Allah yang menciptakanmu, Allah pula yang bertanggung jawab atasmu. 

Bagi dirimu yang belum menemukan apa kesukaanmu, minatmu, teruslah mencari. Allah sudah menyiapkan yang terbaik. Tinggal dirimu yang mau atau tidak untuk mengambil itu dari tangan Allah. Bagimu yang sudah menemukan apa minatmu, gali terus dan jangan puas. Puas adalah senjata yang ampuh untuk membunuh usahamu sepanjang pernajalan.

So, masih tak maukah dirimu untuk move dari zona nyaman ?


Dengerin lagu ini dulu yuk !

Share:

0 comments