IPK Turun, Siapa Gak Sedih Coba ?

Sedih pastilah ya, siapa coba yang nggak sedih ketika melihat Kartu Hasil Studinya (KHS) berwarna-warni. Namun, inilah yang perlu diterima dengan lapang dada sambil berkata, "Ya, aku yang salah.". Banyak faktor sih yang membuat warna KHS berwarna, mulai dari kita yang kurang serius memahami mata kuliah, sering absen, kesalahan teknis KRS (Kartu Rencana Studi) sampai dosen yang ngeselin.

sumber gambar: film-grab.com
Tapi, ya inilah kenyataannya. Diterima, diperbaiki, mau apalagi coba ? Menerima bukan sebuah tanda kita lemah. Menerima adalah level tertinggi dalam hidup, legowo. Ia menjadi materi untuk belajar lebih baik.

Benar, IPK bukan segalanya. Pintarmu, cerdasmu hingga pekanya kamu pada kondisi sosial nggak melulu bisa diukur dengan IPK. Tapi, IPK dan lulus itu adalah sebuah kewajiban. Ia layaknya tiket kereta. Nggak peduli kemana tujuan dan niatmu, kamu harus punya tiket untuk bisa nunut kereta. Nggak peduli kamu anak presiden hingga tukang batu, kamu harus punya tiket.

IPK turun, bukan berarti kamu bodoh. Ia sebagai pengingat, bahwa kita terlalu lalai dengan hal-hal yang wajib kita kerjakan. Namun, kamu juga patut berbangga, setidaknya kamu memiliki sesuatu yang dapat kamu unggulkan.

Ketika kita yakin dapat menjalani dua hal secara bersamaan, seperti kewajiban (kuliah) dan kebutuhan (organisasi, kerja dsb), pantasnya kita menepati keyakinan itu. Bukan mencederai salah satunya, karena keduanya penting bagi hidupmu.

Datangnya catatan ini padamu, bukan bermaksud menertawakan kesedihanmu. Catatan ini datang untuk menghiburmu, menghapus lara yang kau rasa tiada tara. Jangan kau putus asa karena IPK. Ia layaknya pengingat kita, saat lalai membuai dan menguasai kita.

So, masih sedihkah engkau karena IPKmu turun ?

Share:

0 comments