#Penulis Tamu : Literasi Media Obat dari Penyakit Latah Informasi

Halo ! Setelah beberapa waktu mengkonsep konten blog, akhirnya bisa menulis kembali. Seperti judulnya, #PenulisTamu adalah sesi dimana aku menerima tulisan dari teman-teman pengunjung Blog. Siapapun boleh menulis disini, silahkan menulis opini dengan tema Media (Sosial/Massa), Politik dan Viral dengan panjang minimal 500 kata ke mirzabareza@live.com. Ditunggu yak !

Untuk mengawali sesi #PenulisTamu ini, yuk kita simak opini dari sahabatku Abdul Jalil Mursyid, seorang pegiat literasi IMM Renaissance Univeritas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia adalah lulusan Ilmu Komunikasi UMM tahun 2016. Kecintaannya pada membaca dan menulis membuatnya tergerak untuk menelurkan generasi-generasi penulis baru. Hingga hari ini, ia aktif menjadi seorang Kontributor Website Muhammadiyah. Tulisan yang ia minati terkait dengan Ilmu Komunikasi. Kalian bisa follow Instagramnya. Yuk, kita simak bersama opininya !

-----------------------------------------------------------------------------------------------------


LITERASI MEDIA OBAT DARI PENYAKIT LATAH INFORMASI


Beberapa waktu yang lalu penulis sempat mengikuti pemberitaan tentang seorang anak atau siswa yang mengadukan gurunya ke pihak kepolisan dikarenakan dicubit. Berbagai sudut pandang berita diterbitkan oleh redaktur. Sudut pandang yang menghakimi bahwa siswa tersebut salah, manja dan sebagainya muncul. Sudut pandang yang menyatakan bahwa orang tua siswa seharusnya tidak mengadukan dan sebagainya juga muncul.

Pemberitaan dengan menggunakan foto wajah siswa yang bersangkutan juga ditampilkan oleh media yang kemudian tersebut di seluruh media sosial. Ternyata penyebaran berita tersebut tidak main-main. Keadaan zaman yang sudah canggih menjadikan berita yang diterbitkan dengan mudah dibagikan ke akun media sosial yang dimiliki oleh pembaca berita. Penyebaran semakin luas sehingga masyarakat yang tidak mengetahui apapuun menjadi mengetahui karena pemberitaan tersebut semakin gencar dan membuat orang menjadi penasaran dengan banyaknya yang membicarakan permasalahan tersebut. 

Beberapa pendapat ahli atau pakar pendidikan bermunculan, bahkan pendapat netizen tentang perbuatan siswa tersebut seakan-akan semakin memperparah kondisi yang bersangkutan. Sangat cepat sekali dampak yang bermunculan, media sosial turut serta ‘merayakan’ isu tersebut dengan meng-upload gambar meme dengan dilengkapi tulisan-tulisan yang juga mendeskreditkan siswa dan orang tuanya. Semakin lama semakin banyak masyarakat yang latah informasi dengan terus menyebarkan dan menjadikan berita tersebut booming tanpa mengetahui kejadian detail tentang permasalahan pencubitan tersebut. Tak ketinggalan pula Komisi X DPR RI juga ikut bersuara tentang kasus pencubitan siswa SMP Sidoarjo tersebut. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa semua komentar dan perilaku latah tersebut diawali oleh media yang pertama kali menerbitkan berita tersebut yang kemudian dikonsumsi masyarakat dengan bebas. Berbagai media massa dapat menerbitkan berita tentang kejadian tersebut yang kemudian disebarkan oleh masyarakat. Jika media cetak, maka audience cukup memfoto berita tersebut dan membagikan ke grup-grupnya yang ada di media sosial. Jika berita melalui online, maka audience cukup menyalin link  berita tersebut untuk diteruskan. Dengan praktek masyarakat Indonesia yang demikian, sekejab menjadikan Samhudi, guru yang laporkan menjadi terkenal dan SS sebagai yang melapor menjadi ‘tersangka’ utama.



Dengan booming nya pemberitaan tersebut juga menjadikan Wakil Bupati Sidoarjo serta ketua Komisi D DPRD Kabupaten Sidoarjo turun tangan. Jika kita menilik kembali dengan teori-teori media massa yang menyatakan bahwa media massa merupakan jarum suntik yang dapat mempengaruhi masyarakat dengan mudah. Ketika media sudah memberitakan hal tersebut maka audience ‘tersuntik’ sehingga dapat dengan mudah menyebarkaan berita tersebut. Mulai dari berita pelaporan siswa tersebut ke pihak kepolisian kemudian proses persidangan  hingga berita tentang pencabutan tuntutan serta meminta damai dari pihak pelapor dikonsumsi dengan ‘renyah’ oleh masyarakat umum. Mulai dari awal pemberitaan jugalah anak yang bersangkutan menerima cyber bulllying dari netizen yang kemudian berdampak pada tidak diterimanya yang anak tersebut di sekolah di daerahnya. 


Foto-foto pelapor dengan bebas tersebar dilengkapi tulisan yang menyindir anak atau orang tuanya. Teori jarum suntik itu pun telak terbuktikan dengan dampak negatif yang diterima oleh anak tersebut. Media yang seharusnya dapat menjaga stabilitas sosial, ekonomi, serta kenyamanan masyarakat masih belum bisa dibuktikan secara konkrit. Dengan adanya pemberitaan tersebut media seakan-akan ingin membingkai bahwa seorang siswa tidak boleh manja, orang tua tidak boleh memanjakan anaknya dalam hal pendidikan. Seolah-olah itulah yang ingin media sampaikan yang akhirnya terealisasi dengan mulus oleh masyarakat kita. Mungkin dalam kacamata pendidikan memang hal tersebut tidak dibenarkan, mengadukan guru yang hanya mencubit siswanya. Namun apakah tidak dipikirkan pula bagaimana nasib anak tersebut ketika mengetahui bahwa wajahnya tersebar di seluruh dunia maya yang akhirnya dikenal oleh seluruh Indonesia atau bahkan seluruh dunia. 

Media sosial yang sudah sangat akrab dengan kehidupan masyarakat juga dimanfaatkan untuk menebar bullying pada pihak yang bersangkutan. Dalam kasus ini juga turut menyumbang suara selebriti Indonesia yang juga seorang komika, Ernest. Ernest menyampaikan pendapatnya melalui akun twitternya yang kemudian ditanggapi oleh Netizen. Dalam permasalahan ini, jika dilihat lebih dalam maka antara media massa yang menyebarkan dan masyarakat yang ikut menyebarkan tidak bisa dipersalahkan keduanya. 

Media massa dalam hal ini redaktur dapat dengan bijak menentukan pemberitaan yang akan diterbitkan. Pembuatan judul serta lead dalam sebuah berita sebaiknya dilihat lebih teliti lagi sehingga tidak menimbulkan dampak yang negatif bagi berbagai pihak. Dalam permasalahan ini seakan-akan media massa menjadi hakim yang memutuskan siapa yang salah dan tidak. Efeknya jangka pendeknya adalah masyarakat juga ikut menghakimi sesuai dengan apa yang diberitakan media. Namun, dampak jangka panjang mungkin belum terpikirkan oleh kita sebagai penkonsumsi berita. 

Jika bagi guru yang melakukan sudah mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Namun dukungan tersebut ada bagi anak yang melaporkan tersebut? Apakah anak tersebut akan baik-baik saja secara psikologis? apakah anak tersebut dalam diterima dengan baik di lingkungan sekitarnya? Apakah teman sepermainan anak tersebut masih mau bermain? Pertanyaan itu mungkin belum terdayang di benak masyarakat kita yang terlalu sering asal membagi berita tanpa kemudian mengetahui secara lebih dalam permasalahan yang ada. Dengan bukti dan praktek tersebut maka masyarakat Indonesia juga dirasa perlu bijak dalam kegiatan sebar menyebar berita ini. Kegiatan media literasi mungkin masih belum dilakukan dan belum diketahui oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.



Media literasi sebagai salah satu solusi yang konkrit sejatinya dapat membantu permasalahan negara kita dalam hal informasi ini. Mengetahui mana yang baik dan tidak untuk disebarkan menjadi perihal utama dalam menggunakan media massa dengan bijak. Apabila media massa dapat bijak mengeluarkan beritanya serta masyarakat juga dengan bijak menyaring informasi mana yang sekiranya bisa disebar untuk kebermanfaat masyarakat lainnya maka kesejahteraan masyarakat serta fungsi media yang ideal bukanlah sebuah mimpi angan semata.

Share:

0 comments